tiba tiba teringat dengan salah satu tugas kuliah dulu, mengenai illustrasi seni jalanan. street art, yang dalam budaya modern cenderung identik dengan vandalisme anarki. inilah menariknya, di satu sisi seni jalanan cenderung mengotori ruang publik, tapi dalam perspektif lain ini sebuah karya seni, sebuah ekspresi masyarakat sipil! yang tentu saja nilainya akan mengerdil jika di terapkan di media lain. riset akhirnya terhenti di situs buku terbesar : amazon. inilah, menurut saya, buku buku penting, atau, setidaknya inspiratif dan lagi di kemas dengan sangat menarik yang membahas mengenai seni jalanan.
WoosterCollective alah satu blog yang paling otoritatif terhadap seni jalanan. beberapa waktu yang lalu, pendirinya, Marc dan Sara Schiller, menaburkan beberapa tahun risetnya ke dalam buku Trespass: A History Of Uncommissioned Urban Art — antologi menarik, yang mengupas segala sesuatu mengenai seni urban ini. sebuah resume cantik mengenai manifestasi seni modern untuk aktivisme, demokrasi hingga kebebaan bicara warga sipil. dengan 320 halaman berkualitas, setiap halamannya terkesan angat ambisius memvisualisasikan betapa indahnya seni jalanan.
What makes Trespass different from other street art books is that it’s not a street art book. It’s a book that certainly includes street art and graffiti but goes beyond that to also address performance, protest, sculpture, and the whole goal of the book was to really look at the context of street art in a much larger historical perspective.” ~ Marc Schiller
From Darwin’s marginalia to Voltaire’s correspondence, or what Dalí’s controversial World’s Fair pavilion has to do with digital myopia.
Meskipun kemajuan teknologi kita di abad ini begitu luar biasa dan pertumbuhan budaya digital di dekade terakhir amat mencengangkan, sebagian besar warisan budaya manusia terkaya tetap terkubur tenang dalam arsip arsip analog. Menjembatani itu adalah Digital Humaniora, sebuah proyek yang mencoba membawa bahan-bahan sejarah penting tersebut ke dunia maya dan menggunakan teknologi seperti scan inframerah, pemetaan geolocation, dan pengenalan karakter optik untuk memperkaya sumber daya tersebut dengan informasi terkait dan di tambah banyak penemuan penemuan mutakhir. di sini adalah tujuh proyek digitalisasi fantastis dan interpretasi dari beberapa aset paling berharga dalam peradaban kita. Continue reading
What the Amazon rainforest has to do with the Kaisut Desert and Fifth Avenue luxury.
berbasis fotografi dokumenter. james mollison merangkai karya essai : where children sleep. mengeksplorasi keberagaman, dan tajamnya kontras perbedaan kehidupan anak anak di seluruh dunia melalui potret kamar tidur mereka. proyek ini di mulai dengan tujuan memperjuangkan hak hak anak dan berlanjut menjadi bahan perenungan publik terhadap kemiskinan dan hak asasi manusia, khususnya anak anak di daerah tambang batu nepal.
mungkin yang menarik dari buku ini adalah anak anak usia 9-13 tahun bisa melihat keberagaman budaya dari anak anak di seluruh dunia. dan bagi audiens dewasa, sebagai suatu essai yang menyentuh hak hak asasi manusia.
7-year-old Indira works at a granite quarry and lives in a one-room house near Katmandu, Nepal, with her parents, brother and sister. Continue reading Velvet underground tak hanya merevolusi mindset orang-orang mengenai musik dan seni grafis. nihilisme warhol ternyata di bawa sebagai ide dari revolusi di cekoslovakia. revolusi beludru: VELVET REVOLUTION.

album velvet underground rancangan andy warhol
Album debut VU dan Nico (keduanya protégé Andy Warhol) yang di buat pada 1967 sangat revolusioner- dalam beberapa arti. Pertama : Nuansa album ini sangat kontras dengan eranya, yaitu zaman flower generation yang pekat dengan warna warni optimisme, kebebasan, dan psychedelia. Continue reading
What better combination of art forms is there than Disney and tattoos? Well, if you’re a Disney geek with tattoos (or a Disney geek who appreciates them), then there is nothing better. Continue reading